Archive for Desember 2020
Makalah kedudukan dan tujuan hidup manusia
KEDUDUKAN DAN TUJUAN HIDUP MANUSIA
Diajukan untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah
PENDIDIKAN AGAMA
Dosen : Ade Yulianti,M.Pd.I
Di susun oleh :
1. Dini Andriani (20211011059)
2. Evi Apriani (20211011055)
3. Iim Salim (20211011107)
PROGRAM STUDI PAI
FAKULTAS ILMU KEISLAMAN
UNIVERSITAS ISLAM AL-IHYA KUNINGAN
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama ALLAH SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Pendidikan Agama dengan judul “Kedudukan dan Tujuan Hidup Manusia”.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai materi ini. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa didalam tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang kami harapkan. Untuk itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan dimasa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekira makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan, dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dimasa depan.
Kuningan,17 Oktober 2020
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB 1 PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan Penulisan 1
BAB 2 PEMBAHASAN 2
A. Kedudukan manusia 2
B. Tujuan hidup manusia 4
BAB 3 PENUTUP 8
A. Kesimpulan 8
B. Saran 8
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Manusia merupakan mahluk Allah SWT yang diciptakan secara sempurna dibandingmahluk lain. Manusia diberikan akal dan fikiran oleh Allah SWT, karena Allah SWTmempunyai maksud dan tujuan untuk apa manusia diciptakan.Keberadaan manusia sebenarnya sudah tercantum dalam ayat-ayat Al-Quran, beritamengenai manusia, proses penciptaan manusia sampai tatanan kehidupanmanusia pun sudah diatur di dalam Al-Quran. Hal ini menggambarkan kepada kita bahwa pendidikanislam merupakan cara yang paling sempurna dalam mengembangkan potensi fitrah yangsudah ada sejak jaman ajali. Pendidikan islam akan memberikan bimbingan bagaimana menjadikan manusia sebagai manusia yang beriman sekaligus sebagai khalifah yang bertanggungjawab.Dalam makalah ini akan dibahas mengenai Eksistensi Manusia dalam pandangan Islam, kajian ini diharapkan akan menghantarkan kepada kita untuk menjadi manusia yang berkepribadian muslim yang bertaqwa kepada Allah dengan pengamalan dari aplikasi kehidupan kita sehari-hari.
B. RUMUSAN MASALAH
Apa kedudukan dan peran manusia ?
Apa tujuan hidup manusia ?
C. TUJUAN PENULISAN
Makalah ini di buat dengan tujuan agar para mahasiswa bisa memahami tentang kedudukan dan peran manusia sebagai hamba allah dan khalifah serta dapat memahami apa tujuan hidup manusia dalam islam.
BAB II
PEMBAHASAN
KEDUDUKAN MANUSIA DI ALAM SEMESTA MENURUT ALQUR’AN
Allah menciptakan manusia dari sari pati tanah, kemudian dari tanah tersebut terbentuklah air mani (nutfah) yang hina, kemudian dari air mani membentuk segumpal darah, kemudian segumpal daging. Selanjutnya Allah meniupkan roh ke dalamnya dan mengambil kesaksian ketuhanan atas diri manusia tersebut.
Manusia yang lahir dari rahim seorang ibu ke dunia, memiliki kedudukan yang sangat tinggi di hadapan Allah. Bahkan Allah telah memerintahkan kepada malaikat dan iblis untuk bersujud kepada manusia (Adam), padahal manusia hanya makhluk yang diciptakan dari tanah yang lemah dan memiliki derajat yang rendah, tidak seperti malaikat yang diciptakan dari cahaya dan iblis yang diciptakan dari api. Namun, manusia memiliki keistimewaan dibandingkan dengan makhluk yang lain. Oleh karena itu, manusia diberikan beragam potensi dalam dirinya sebagai bekal untuk menjalankan kehidupannya di dunia.
Manusia diciptakan Allah dengan sebaik-baik bentuk. Allah membentuk manusia meliputi unsur jasmani dan rohani. Perpaduan kedua unsur tersebut menjadikan manusia disebut sebagai makhluk yang sempurna di alam semesta. Sebagai makhluk yang sempurna,manusia di alam semesta memiliki kedudukan sebagai hamba Allah dan khalifah.
1.Manusia sebagai hamba Allah
Hamba Allah berarti orang yang senantiasa tunduk, patuh, taat terhadap semua yang diberikan Allah atas dirinya. Seseorang yang menjalankan semua hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Allah dan menjalankan apa-apa yang diperintahkanNya. Dapat dimaknai pula seseorang yang bergantung dalam hidup dan matinya hanya kepada Allah semata, sehingga tidak ada pengingkaran, penghianatan, dan pengufuran terhadap kekuasaan Allah. Setiap manusia mengetahui bahwa dirinya adalah makhluk yang lemah dan terdapat kekuatan besar di atas segala-galanya. Kekuatan supranatural yang dirasakan setiap manusia adalah kekuatan Allah sang pemilik kerajaan langit dan bumi. Manusia yang tidak memiliki pemahaman tentang kekuatan tersebut, akan mengasumsikan Tuhan sebagai benda-benda yang memiliki kekuatan gaib, sehingga muncullah keyakinan-keyakinan di luar ajaran yang telah diajarkan Allah melalui para nabi. Namun, pada hakikatnya semua manusia percaya bahwa pemilik kekuasaan yang Mahatinggi adalah wujud (ada). Hal tersebut disebabkan karena manusia merupakan makhluk beragama. Allah telah memberikan potensi beragama kepada setiap manusia yang lahir ke dunia dalam wujud kesaksiannya kepada Allah ketika berada di alam roh. Kesaksian tersebut dijelaskan dalam Surah Al-A'raf ayat 172 yang artinya: "Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): 'Bukanlah aku ini Tuhanmu?' Mereka (anak-anak Adam menjawab: 'Betul, Engkau Tuhan kami') kami menjadi saksi.." Konsekuensi logis dari kesaksian terhadap ketuhanan adalah wujud penghambaan diri kepada Tuhannya, yaitu menyembah dan beribadah kepada-Nya. Allah swt. berfirman dalam Surah Adz-Dzariyat,ayat56:. وما خلقت الجن والانس الاليعبدون Artinya: "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku" Berdasarkan ayat di atas, dapat dimaknai bahwa seluruh aktivitas manusia di dalam kehidupan dunia dalam rangka beribadah kepada Allah. Oleh karena itu, setiap perbuatan harus diniatkan ibadah dan hanya mengharapkan rida Allah semata.
2. Manusia sebagai Khalifah
Manusia memiliki kedudukan di bumi sebagai khalifah dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah,ayat30:. اني جاعل في الارض خليفة Artinya: ".... Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya" Hubungan manusia dengan alam semesta, bukan merupakan hubungan antara penakhluk dan yang ditakhluk atau hubungan hamba dan tuan, melainkan hubungan partner dalam ketundukan kepada Allah. Kemampuan manusia mengelola dan memakmurkan bumi, bukan semata kekuatan manusia, melainkan Allah telah menundukkan alam semesta untuk manusia, sehingga manusia dapat memanfaatkan apa yang ada dengan sebaik-baiknya. Oleh karena ity, perlunya sikap moral dan etika dalam melaksanakan fungsi kekhalifahannya di muka bumi
Pada dasarnya, kekuasaan manusia tidaklah bersifat mutlak, sebab kekuasannya dibatasi oleh kekuasaan Allah, sehingga seorang khalifah tidak boleh melawan hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Allah. Kekhalifahan tidak dapat dijalankan dengan begitu saja, sebab kekhalifahan membutuhkan ilmu pengetahuan, pengajaran, keterampilan dalam mengelola dan memimpin. Oleh karena itu, pentingnya pendidikan untuk membentuk khalifah yang unggul dan senantiasa mengajak kepada ketaatan kepada Allah swt.. Berdasarkan pemaparan yang telah dijelaskan di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.
Manusia memiliki kedudukan sebagai hamba Allah yang bertugas untuk senantiasa beribadah kepada Allah semata. Apa pun aktivitas yang dijalankan oleh manusia di muka bumi, hendaknya ditujukan untuk beribadah dan mencari rida Allah swt.
Manusia memiliki kedudukan sebagai khalifah yang berarti pemimpin, pengganti Allah, dan penguasa bumi. Manusia harus menjalankan kepemimpinannya sejalan dengan ketetapanbdan hukum-hukum Allah swt., karena pada hakikatnya kepemimpinan manusia bukanlah kepemimpinan mutlak dan segala-galanya, karena pemimpin yang sebenarnya hanyalah Allah semata.
B. TUJUAN HIDUP MANUSIA MENURUT ISLAM
Manusia diciptakan oleh Allah SWT untuk mengemban amanah dan menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Dengan melihat asal mula kejadian manusia, kita dapat mengetahui bahwa Allah memberikan kelebihan bagi manusia dalam hal akal dan pengetahuan yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Saat Allah SWT menciptakan Adam As, Allah memerintahkan para malaikatnya untuk bersujud kepada Adam karena kelebihan yang ia miliki meskipun ada makhluk yang menolak untuk bersujud yakni iblis.Asal mula kejadian manusia disebutkan dalam firman Allah berikut ini :
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ۖ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ
“Yang membuat segala sesuatu yang memciptakan sebaik-baiknya dan memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunan dari saripati air yang hina kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya ruh (ciptaan) Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati (tetapi) sedikit sekali tidak bersyukur.”(QS As sajadah 7-9)
Manusia tidak diciptakan begitu saja tanpa adanya tujuan hidup. Adapun tujuan utama manusia diciptakan oleh Allah SWT adalah agar dapat menyembah dan beribadah kepada Allah SWT. Berikut ini adalah tujuan hidup manusia di bumi yang disebutkan dalam Alqur’an dan sunah rasul
1. Menyembah Allah
Adapun tujuan hidup manusia yang paling utama adalah untuk menyembah dan beribadah kepada Allah SWT. Sebagai hamba Allah, manusia wajib menjalankan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya. Manusia juga harus menjadikan rukun iman dan rukun islam sebagai pedoman hidupnya. Berikut ini adalah ayat yang menyebutkan kewajiban manusia untuk beribadah kepada Allah SWT
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (Qs Adz zariyat : 56).
Adapun ibadah yang dapat dilaksanakan oleh manusia untuk memenuhi tugasnya sebagai hamba Allah dapat berifat umum maupun khusus. Ibadah yang bersifat khusus adalah ibadah yang langsung ditujukan kepada Allah SWt seperti shalat, baik shalat wajib ataupun shalat sunah,puasa,zakat,haji dan ibadah lainnya yang sifatnya sunnah seperti membaca Alqur’an, bersedekah. Adapun ibadah yang dilakukan secara umum adalah ibadah yang kaitannya dengan hubungan manusia dengan sesamanya seperti menyambung tali silaturahmi tolong menolong antar sesama sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah SWT bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk social.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al hujurat : 13)
2.Menjalankan perannya sebagai khalifah
Manusia adalah khalifah di muka bumi dan setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Istilah khalifah disini adalah pemimpin dimana manusai bertanggung jawab menjaga keberlangsungan hidupnya dan alam sekitarnya. Sebagai makhluk yang dikaruniai akal maka manusia memiliki kewajiban untuk mengelola sumber daya alam dan menjaga kelestariannya. Tidak hanya itu, manusia juga berkewajiban untuk menjaga dirinya sendiri dari perilaku yang tidak baik karena setiap perlakuan atau perbuatan manusia di dunia kelak akan dimintai pertanggung jawabannya. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Albaqarah ayat 30.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.(QS Al baqarah :30)
3. Meneruskan Ajaran islam
Tidak hanya beribadah dan menjalankan tugasnya sebagai khalifah, manusia juga wajib menuntut ilmu dan meneruskannya pada generasi selanjutnya agar ajaran islam tetap terjaga hal ini sejalan dengan tujuan Pendidikan.Menurut islam yang menyebutkan bahwa ilmu pendidikan islam bukan hanya ilmu yang diajarkan untuk melaksanakan ibadah kepada Allah SWT akan tetapi juga untuk menuntun perilaku manusia dan menunjukkan perbuatan amar ma’ruf nahi mungkar.
Sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah surat Al imran ayat 104 yang bunyinya
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.“(QS Al Imran : 104)
Tujuan hidup manusia tersebut hendaknya dipahami dan dilaksanakan oleh manusia karena tanpa tercapainya tujuan hidup tersebut maka tuhas manusia di bumi ini tidaklah dapat terpenuhi
BAB III
P E N U T U P
A. KESIMPULAN
Manusia memiliki kedudukan sebagai hamba Allah yang bertugas untuk senantiasa beribadah kepada Allah semata. Apa pun aktivitas yang dijalankan oleh manusia di muka bumi, hendaknya ditujukan untuk beribadah dan mencari rida Allah swt.
Manusia memiliki kedudukan sebagai khalifah yang berarti pemimpin, pengganti Allah, dan penguasa bumi. Manusia harus menjalankan kepemimpinannya sejalan dengan ketetapanbdan hukum-hukum Allah swt., karena pada hakikatnya kepemimpinan manusia bukanlah kepemimpinan mutlak dan segala-galanya, karena pemimpin yang sebenarnya hanyalah Allah semata.
Manusia diciptakan oleh Allah SWT untuk mengemban amanah dan menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi.
B. SARAN
Dari penulisan makalah ini,penulis menyarankan agar sebagai seorang manusia kita harus menjadi individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.kita sebagai manusia juga harus bersyukur karena diciptakan oleh allah dengan sebaik baiknya rupa,bahkan lebih sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya.Maka dari itu,kita harus mempunyai tujuan hidup yang baik semata untuk mengharap ridha-Nya.
Makalah peengertian manusia dan hakekat manusia
MAKALAH PENGERTIAN MANUSIA DAN HAKEKAT MANUSIA
(Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam)
Disusun oleh :
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM AL-IHYA KUNINGAN
2020/2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang sudah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah- Nya sehingga kami bisa menyusun Tugas Ilmu Kalam ini dengan baik serta tepat waktu.
Shalawat serta salam kita panjatkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarnya, para sahabatnya dan tak lupa kepada kita semua selaku umatnya yang mudah-mudahan masih di istiqomahkan dalam menjalankan syariatnya, aamiin.
Pada kesempatan ini tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada kedua orang tua, yang telah berjasa besar dan penuh pengorbanan serta selalu berdoa dalam memenuhi segala kebutuhan ananda, sehingga penulis sukses dalam menuntut ilmu untuk kehidupan masa depan yang lebih baik.
Tugas ini kami buat untuk memberikan ringkasan tentang keberadaan Ilmu Agama secara luas untuk kemajuan bangsa. Mudah- mudahan makalah yang kami buat ini bisa menolong menaikkan pengetahuan kita jadi lebih luas lagi. Kami menyadari kalau masih banyak kekurangan dalam menyusun makalah ini.
Oleh sebab itu, kritik serta anjuran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan guna kesempurnaan makalah ini. Kami mengucapkan terima kasih kepada Bpk Dosen mata pelajaran Ilmu Kalam. Kepada pihak yang sudah menolong turut dan dalam penyelesaian makalah ini. Atas perhatian serta waktunya, kami sampaikan banyak terima kasih.
DAFTAR ISI
Kata pengantar
Daftar Isi
Pendahuluan :
1. Latar Belakang
2. Rumusan Masalah
3. Tujuan Penulisan
Pembahasan Materi :
Pengertian manusia menurut Islam
1. Makhluk yang sempurna dan mulia
2. Makhluk yang bertanggung jawab
3. Khalifah dan hamba Allah
4. Makhluk berakhlak
5. Makhkuk kontroversial
Hakekat manusia menurut Islam
1. Asal kejadian manusia
2. Tujuan penciptaan manusia
Hakekat manusia menurut Al-Qur'an
1. Sebagai hamba Allah
2. Sebagai An-naas
3. Sebagai khalifah
4. Sebagai Bani adam
5. Sebagai Al-insan
6. Sebagai Al-basyar
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Latar Belakang Manusia merupakan makhluk yang sangat menarik. Oleh karena itu, manusia dan berbagai hal dalam dirinya sering menjadi perbincangan diberbagai kalangan. Hampir semua lembaga pendidikan tinggi mengkaji manusia, karya dan dampak karyanya terhadap dirinya sendiri, masyarakat dan lingkungan tempat tinggalnya. Para ahli telah mencetuskan pengertian manusia sejak dahulu kala, namun sampai saat ini belum ada kata sepakat tentang pengertian manusia yang sebenarnya. Hal ini terbukti dari banyaknya sebutan untuk manusia, misalnya homo sapien (manusia berakal), homo economices (manusia ekonomi) yang kadangkala disebut Economical Animal (Binatang ekonomi), dan sebagainya.
Agama islam sebagai agama yang paling baik tidak pernah menggolongkan manusia kedalam kelompok binatang. Hal ini berlaku selama manusia itu mempergunakan akal pikiran dan semua karunia Allah SWT. dalam hal-hal yang diridhoi-Nya. Namun, jika manusia tidak mempergunakan semua karunia itu dengan benar, maka derajat manusia akan turun, bahkan jauh lebih rendah dari seekor binatang. Hal ini telah dijelaskan dalam Al-Quran surat Al-Araf ayat 179.
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi) neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
2. Rumusan Masalah
Pengertian manusia menurut pandangan Islam
Hakekat manusia menurut pandangan Islam
Hakekat manusia menurut pandangan Al-Qur'an
3. Tujuan Penulisan
Mengetahui apa pengertian manusia secara luas menurut pandangan Islam dan menurut Al-Qur'an
Mengetahui bagaimana tujuan dan hakekatnya manusia diciptakan
BAB II
PEMBAHASAN
PENGERTIAN MANUSIA MENURUT ISLAM
Manusia menurut pandangan Islam adalah makhluk Allah s.w.t. yang memiliki unsur dan daya materi yang memiliki jiwa dengan ciri-ciri berfikir, berakal, dan bertanggungjawab pada Allah s.w.t. yang diciptakan dengan memiliki akhlak. Secara terperinci, manusia merupakan :
1. Makhluk yang Sempurna dan Mulia
Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna, baik dari wujud fisiknya maupun rohaninya. Manusia menjadi makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna dan mulia karena memiliki akal. Akal inilah yang membedakan manusia dengan maklhuk lainnya. Akal membantu manusia untuk melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan oleh manusia.
2. Makhluk yang Bertanggungjawab
Manusia sebagai makhluk yang paling sempurna, dimintai pertanggung jawabannya terhadap amanah yang telah diberikan Allah s.w.t. kepadanya untuk mengelola alam semesta bagi kesejahteraan semua makhluk. Hal ini sesuai dengan surat al-Ahzab ayat 72 berikut :
إنا عر ضنا الأ ما نة على السموت والأرض والجبال فأبين أن يحملنها و أشفقن منها وحملها الإ نسن إنه كان ظلوما جهولا
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amnat itu dan mereka khawati akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.
Setiap manusia menurut pandangan Islam adalah seorang pemimpin, terutama memimpin dirinya sendiri. Setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya terhadap apa yang telah dipimpinnya baik lahir maupun batin, serta di dunia maupun di akhirat.
3. Khalifah dan Hamba Allah
Manusia memiliki akal dan kalbu yang tidak dimiliki oleh makhuk lain, maka manusia dijadikan sebagai khalifah dan sekaligus menjadi hamba Allah. Khalifah mengandung makna bahwa Allah menjadikan manusia sebagai pemegang kekuasaan yang bertugas untuk melaksanakan syariat-Nya di bumi, disebut dalam surat as-Shaad ayat 26 berikut :
يداود إنا جعلنك خليفة فى لارض فا حكم بين الناس با لحق ولا تتبع الهوى فيضلك عن سبيل الله إن الذين يضلون عن سبيل الله لهم عذاب شديد بم نسوأيوم الحساب
Wahai Dawud sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia kana menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupkan hari perhitungan.
4. Makhluk Berakhlak
Akhlak merupakan gambaran atau wujud diri manusia yang sebenarnya, ketika manusia memiliki akhlak yang baik, maka ia memilki kedudukan yang tinggi di mata Allah. Sebaliknya jika manusia memiliki akhlak yang buruk, maka kedudukannya rendah di mata Allah. Akhlak merupakan salah satu keunggulan yang dimiliki manusia, karena manusia memiliki akhlak, maka manusia mempunyai kemampuan untuk membedakan yang hak dengan yang batil.
5. Makhluk Kontroversial
Manusia disebut makhluk kontrovesial, karena ketika manusia menggunakan akalnya dan dapat mengendalikan nafsunya serta beriman kepada Allah, maka manusia merupakan makhluk yang paling tinggi kedudukannya diantara makhluk lain. Ketika manusia tidak mempergunakan akalnya dan diperbudak oleh hawa nafsu, maka akan menjadi makhluk yang paling hina dan rendah. Hal ini akan terjadi apabila manusia melakukan kerusakan dan kejahatan di muka bumi, maka dampak kerusakan yang timbul akan amat dahsyat, karena tidak ada makhluk lain yang dapat melakukan kerusakan yang sedahsyat manusia.
Hakikat Manusia Menurut Islam
Manusia adalah salah satu makhluk ciptaan Allah SWt yang memiliki peranan penting dalam kehidupan di muka bumi. Manusia juga dipandang sebagai makhluk yang paling tinggi derajatnya dibandingkan makhluk Allah SWT bahkan Allah menyuruh para malaikat untuk bersujud kepada Adam Alaihi salam. Masyarakat barat memiliki pandangan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki jiwa dan raga serta dibekali dengan akal dan pikiran. Lalu bagaimanakah hakikat manusia dalam pandangan islam? Simak penjelasan berikut ini.
A. Asal kejadian manusia
Asal usul manusia dalam Islam dapat dijelaskan dalam proses penciptaan manusia pertama yakni nabi Adam As. Nabi Adam AS adalah manusia pertama yang diciptakan Allah SWT dan diberikan ilmu pengetahuan dan kesempurnaan dengan segala karakternya. Allah mengangkat Adam dan manusia sebagai khalifah dimuka bumi sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut ini
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat Sesungguhya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi. Mereka berkata: Mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan engkau? Tuhan berfirman:sesungguhnya aku mengetahui apa yan tidak kamu ketahui.(QS.Al-Baqarah : 30)
Proses penciptaan manusia dijelaskan dalam al-Quran dan bahkan penjelasan dalam Alquran ini kemudian terbukti dalam ilmu pengetahuan yang ditemukan setelah turunnya Alquran. Ada lima tahap dalam penciptaan manusia yakni al-nutfah, al-alaqah, al-mudhgah, al-idham, dan al-lahm sebagaimana yang disebutkan dalam ayat berikut ini
Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, dan segumpal darah itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami jadikan segumpal daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang(berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, pencipta yang paling baik. (QS. Al-Muminun ayat 12-14)
B. Tujuan Penciptaan Manusia
Adapun tujuan utama allah SWT menciptakan manusia adalah agar manusia dapat menjadi khalifah atau pemimpin di muka bumi. Tugas utama manusia adalah beribadah dan menyembah Allah SWt, menjalani perintahnya serta menjauhi larangannya. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT berikut ini
Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah Aku. (QS Adz Zariyat :56).
Sebagai khalifah dimuka bumi manusia hendaknya juga dapat menjaga amanatnya dalam menjaga alam dan isinya. Manusia sememstinya memiliki akhlak dan perilaku yang baik kepada sesama maupun makhluk hidup yang lain.
Hakikat Manusia Menurut Pandangan Al-Qur'an
Dalam agama islam, ada enam peranan yang merupakan hakikat diciptakannnya manusia. Berikut ini adalah dimensi hakikat manusia berdasarkan pandangan agama islam
1. Sebagai Hamba Allah
Hakikat manusia yang utama adalah sebagai hamba atau abdi Allah SWT. Sebagai seorang hamba maka manusia wajib mengabdi kepada Allah SWT dengan cara menjalani segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Sebagai seorang hamba, seorang manusia juga wajib menjalankan ibadah seperti shalat wajib, puasa ramadhan dan melakukan ibadah lainnya dengan penuh keikhlasan dan segenap hati sebagaimana yang disebutkan dalam ayat berikut ini
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus , (QS:98:5).
2. Sebagai an- Naas
Dalam al- Quran manusia juga disebut dengan al- nas. Kata al nas dalam Alquran cenderung mengacu pada hakikat manusia dalam hubungannya dengan manusia lain atau dalam masyarakat. Manusia sebagaimana disebutkan dalam ilmu pengetahuan, adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa keberadaan manusia lainnya. Sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah SWT berikut
Hai sekalian manusia, bertaqwalaha kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istirinya, dan dari pada keduanya Alah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah dengan (mempergunakan) namanya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS: An Nisa:1).
Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu disisi Allah adalah yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS: Al Hujurat :13).
3. Sebagai khalifah Allah
Telah disebutkan dalam tujuan penciptaan manusia bahwa pada hakikatnya, manusia diciptakan oleh Allah SWt sebagai khlaifah atau pemimpin di muka bumi : Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (peguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu. Karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. (QS Shad:26).
Sebagai seorang khalifah maka masing-masing manusia akan dimintai pertanggung jawabannya kelak di hari akhir.
4. Sebagai Bani Adam
Manusia disebut sebagai bani Adam atau keturunan Adam agar tidak terjadi kesalahpahaman bahwa manusia merupakan hasil evolusi kera sebagaimana yang disebutkan oleh Charles Darwin. Islam memandang manusia sebagai bani Adam untuk menghormati nilai-nilai pengetahuan dan hubungannya dalam masyarakat. Dalam Alquran Allah SWT berfirman
Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, semoga mereka selalu ingat. Hai anak Adam janganlah kamu ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, (QS : Al araf 26-27).
5. Sebagai al- Insan
Tidak hanya disebut sebagai al nas, dalam Alquran manusia juga disebut sebagai Al insan merujuk pada kemampuannya dalam menguasai ilmu dan pengetahuan serta kemampuannya untuk berbicara dan melakukan hal lainnya. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al hud berikut ini
Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat, kemudian rahmat itu kami cabut dari padanya, pastilah ia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. (QS: Al Hud:9).
6. Sebagai Makhluk Biologis (al- Basyar)
Manusia juga disebut sebagai makhluk biologis atau al basyar karena manusia memiliki raga atau fisik yang dapat melakukan aktifitas fisik, tumbuh, memerlukan makanan, berkembang biak dan lain sebagainya sebagaimana ciri-ciri makhluk hidup pada umumnya. Sama seperti makhluk lainnya di bumi seperti hewan dan tumbuhan, hakikat manusia sebagai makhluk biologis dapat berakhir dan mengalami kematian, bedanya manusia memiliki akal dan pikiran serta perbuatannya harus dapat dipertanggungjawabkan kelak di akhirat.
Segala hakikat manusia adalah fitrah yang diberikan Allah SWT agar manusia dapat menjalankan peran dan fungsinya dalam kehidupan. Manusia sendiri harus dapat memenuhi tugas dan perannya sehingga tidak menghilangkan hakikat utama penciptaannya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Manusia menurut pandangan Islam adalah makhluk Allah s.w.t. yang memiliki unsur dan daya materi yang memiliki jiwa dengan ciri-ciri berfikir, berakal, dan bertanggungjawab pada Allah s.w.t. yang diciptakan dengan memiliki akhlak.
Makalah aliran murjiah hoariz
MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah : Ilmu Kalam
Dosen pengampuh : H. Heri Purnama, M.Pd.I
Oleh :
KELAS C
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU KEISLAMAN
UNIVERSITAS ISLAM AL – IHYA KUNINGAN (UNISA)
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada nabi kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di akhiran nanti.
Penyusun mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penyusun mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah untuk memenuhi tugas mata kuliah ilmu kalam
Penyusun tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penyusun mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Demikian apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini mohon maaf yang sebesar-besarnya
Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Kuningan,14 Oktober 2020
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ....................................................................................................... i
DAFTAR ISI ..................................................................................................................... ii
BAB I : PENDAHULUAN
Latar Belakang .............................................................................................. 1
Rumusan Masalah ......................................................................................... 2
Maksud Dan Tujuan ...................................................................................... 2
BAB II : PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Perkembangan lahirnya Khawarij dan Murjia’ah .................. .......... 3
2.2 Ajaran pokok dan perbandingan aliran khawarij dan murjiaah dalam sejarah islam ....................................................................................... 5
BAB III: PENUTUPAN
3.1 kesimpulan .................................................................................................... 7
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ 8
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Khawarij adalah secara harfiyah berarti mereka yang keluar secara umum yang mencakup sejumlah aliran dalam islam yang awalnya mengakui kekusasan Ali Bin Abi Thalib, lalu menolaknya. Secara Terminologi Disebut khawarij di sebabkan karena keluarnya mereka dari dinul islam dan pemimpin kaum muslimin awal mula keluarnya mereka dari kepemimpinan – kepemimpinan kaum muslimin yaitu pada khalifah Ali Bin Abi Thalib karena tidak sepemahaman terhadap keputusan Ali bin Abi Thalib yang menerima Arbitrase (Tahkim) dan kemudian kedua utusan bermusyawarah dan berkumpul di suatu tempat yang disebut khouro dan mereka juga disebut golongan Al - khoruriyyah.
Murjiaah adalah adalah golongan yang terdapat dalam islam yang muncul dari golongan yang tak sepaham dengan khawarij. Ini tercermin dari ajarannya yang bertolak belakang dengan khawarij. Pengertian murjiaah sendiri berasal dari kata Arja’a yaitu menunda atau menangguhkan keputusan atas perbuatan seseorang sampai di pengadilan Allah SWT. Dan munculnya murjiaah di sebabkan persoalan-persoalan politik terutama masalah khilafah yaitu siapa yang paling berhak menggantikan posisi utsman bin affan sebagai khalifah setelah beliau terbunuh dan persoalan ini tetalah menyebabkan timbulnya perpecahan dan pertentagan dalam islam.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah disebutkan, penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut
Sejarah perkembangan lahirnya khawarij dan murjiaah
Ajaran pokok dan perbandingan aliran khawarij dan murjiaah dalam sejarah islam
1.3 Maksud Dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dalam penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut :
Dapat mengetahui Sejarah perkembangan lahirnya khawarij
Dapat mengetahui Ajaran pokok dan perbandingan aliran khawarij dan murjiaah dalam sejarah islam
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Perkembangan Lahirnya Khawarij Dan Murjia’ah
2.1.1 Khawarij
Asal mulanya kaum Khawarij adalah orang yang mendukung Sayyidina Ali. Akan tetapi, akhirnya mereka membencinya karena dua anggota lemah dalam menegakkan kebenaran, mau menerima tahkim yang sangat mengecewakan, sebagaimana mereka juga membenci Mu‟awiyah karena melawan Sayyidina Ali Khalifah yang sah.
Munculnya nama golongan Khawarij adalah setelah peristiwa tahkim, yaitu sebagai upaya menyelesaikan peperangan antara Ali bin Abi Thalib disatu pihak dengan Mu‟awiyah dipihak lain. Peperangan kedua pihak itu terjadi disebabkan Mu‟awiyah pada akhir 37 H, menolak mengakui kekholifahan Ali bin Abi Thalib. Karena setelah Ali bin Abi Thalib memindahkan ibu kotanya al Kufah. Setelah adanya penolakan tersebut Mu‟awiyah segera menghimpun pasukannya untuk menghadapi kekuatan Ali sehingga pecahlah peperangan Siffin pada tahun 37 H/ 658 M.
Dalam peperangan ini tentara Ali di bawah pimpinan Malik al-Asytar hamper mencapai titik kemenangannya, yaitu tentara Ali dapat mendesak tentara Mu‟awiyah. Dan, melihat pasukannya terdesak mundur „Amru bin Asy panglima tertinggi pasukan Mu‟awiyah memerintahkan pasukannya mengangkat tinggi-tinggi al-Qur‟an dengan ujung tombak sambil berkata al-Qur‟an yang akan menjadi hakim diantara kita. Marilah kita bertahkim dengan kitabullah. Kemudian Ali mendapat desakan dari pimpinan-pimpinan pasukannya agar mau menerima ajakan tersebut sehingga pun tidak bisa berbuat apa-apa selain mengabulkan permintaannya untuk menerima.
Sebagai realisasi dari diterimanya perjanjian tersebut dalam Encyclopedie of Islam yang isinya sebagai berikut: “suatu perjanjian telah direncanakan di Siffin pada Safar 37 H/ 657 M. dan telah ditunjukkan dan dijelaskan dalam tahkim itu dua orang sebagai perantara yaitu Abu Musa al-Asy‟ari dan Ali dan Amr Ibnu alAsy untuk Mu‟awiyah yang akan mengumumkan keputusan mereka pada tempat yang mereka telah tentukan yaitu di tengah antara Syiria dan Iraq”. Tetapi sebagaian di antara pasukan Sayyidina Ali ada yang tidak suka menerima ajakan tahkim itu, karena mereka menganggap bahwa orang yang mau berdamai ketika pertempuran adalah orang yang ragu akan pendiriannya dalam kebenaran peperangan yang ditegakkannya. Hukum Allah sudah nyata kata mereka. Siapa yang melawan Khalifah yang sah harus diperangi. “kita berperang guna menegakkan kebenaran demi keyakinan kepada agama kita. Kenapa kita mau berhenti perang sebelum mereka kalah”, kata mereka. Akhirnya kaum ini membenci Ali r.a. karena dianggap lemah dalam menegakkan kebenaran, sebagaimana mereka membenci Mu‟awiyah karena melawan Khalifah yang sah. Kaum inilah yang dinamakan Khawarij, kaum yang keluar dan memisahkan diri dari Ali.
2.1.2 Murji’ah
Kata murji’ah berasal dari kata Arab arja’a yang artinya bisa bermacam-macam yaitu:
Menunda (menangguhkan),
Memberi harapan
Mengesampingkan.
Murji’ah dalam arti menunda (menangguhkan) maksudnya adalah bahwa dalam menghadapi sahabat-sahabat yang bertentangan, mereka tidak mengeluarkan pendapat siapa yang bersalah, tetapi mereka menunda dan menangguhkan penyelesaian persoalan tersebut di hari akhirat kelak di hadapan Allah Swt.
Murji’ah dengan arti memberi harapan, maksudnya adalah bahwa orang-orang islam yang berbuat dosa besar tidak menyebabkan mereka menjadi kafir. Mereka tetap mukmin dan tetap mendapatkan rahmat Allah meskipun mereka harus masuk lebih dahulu dalam neraka karena perbuatan dosanya. Namun murji’ah diberikan untuk golongan ini karena mereka memberi pengharapan bagi orang yang berdosa besar untuk masuk surga.
Sedangkan murji’ah dalam pengertian mengesampingkan maksudnya adalah bahwa golongan ini menganggap yang penting dan di utamakan adalah iman, sedangkan amal perbuatan hanya merupakan soal kedua, yang menentukan mukmin atau kafirnya seseorang adalah imannya bukan perbuatannya. Dengan demikian, iman lebih penting dibandinkan perbuatan, sedangkan perbuatan dikesampingkan.
Aliran ini di sebut murji’ah karena menunda penyelesaian permasalahan antara Ali ibn Abi Thalib dan Muawiyyah Ibn Abi Sufyan dan Khawarij ke hari perhitungan di akhirat nanti. Aliran ini menyatakan bahwa orang yang berdosa tetap mukmin selama masih beriman kepada Allah SWT dan Rasul Nya. Sedangkan orang yang melakukan dosa besar, orang tersebut di akhirat baru ditentukan hukuman nya.
Aliran ini muncul dilatarbelakangi oleh persoalan politik, yaitu soal khilafah (kekhalifahan). Setelah terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan, umat islam pada masa itu terpecah kedalam tiga kelompok yaitu golongan Khawarij, Syiʻah dan Muawiyah. Dalam merebut kekuasaan, kelompok muawiyyah membentuk Dinasti Umayyah. Syiʻah dan Khawarij sama-sama menentang kekuasaannya. Syiʻah menentang Muawiyyah karena menuduh Muawiyyah merebut kekuasaan yang seharusnya milik Ali dan keturunannya. Sementara itu Khawarij tidak mendukung muawiyyah karena ia dinilai menyimpang dari ajaran islam. Dalam pertikaian antara ketiga golongan tersebutlah terjadi saling mengkafirkan, sampai akhirnya muncul sekelompok orang yang menyatakan diri tidak ingin terlibat dalam pertentangan politik yang terjadi. Kelompok inilah yang kemudian berkembang menjadi golongan Murji’ah.
Seperti arti dari murji’ah yang ketiga adalah mengesampingkan, jadi golongan murji’ah berpendapat bahwa yang terpenting dalam kehidupan beragama adalah aspek iman dan kemudian amal. Walaupun seseorang telah melakukan dosa besar, selama masih meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusanNya, maka ia tetap dianggap mukmin bukan kafir, adapun mengenai dosa yang dilakukannya terserah Allah akan diampuni atau tidak, pendapat ini menjadi doktrin ajaran murjiah, dan pendapat ini berlawanan dengan pendapat kaum khawarij yang menyatakan bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir.
Pendapat yang seperti ini dapat disimpulkan bahwa yang terpenting dan yang paling diutamakan bagi golongan murji’ah adalah iman, sedangkan perbuatan merupakan soal kedua. Jadi, yang menentukan seseorang itu mukmin atau kafir adalah kepercayaan atau keimanannya saja, dan bukan perbuatan dan amalannya. Akibat dari pendapat yang demikian yang menganggap bahwa perbuatan itu tidak penting membawa golongan murjiah ini kedalam beberapa paham-paham yang ekstrim.
2.2 Ajaran pokok dan perbandingan aliran khawarij dan murjiaah dalam sejarah islam
2.2.1 Ajaran Pokok Khawarij
Golongan khawarij mucul karena masalah politik, namun dalam perkembangan berikutnya mereka banyak membicarakan masalah theologi, sehingga mereka tergolong ke dalam suatu aliran dalam ilmu kalam. Sekalipun khawarij sudah terbagi menjadi beberapa sekte dan mempunyai dokrin yang berbeda. Dalam berbagai referensi ajaran-ajaran pokok aliran khawarij berkisar mengenai soal-soal khalifah (politik ketatanegaraan), dosa besar, khafir dan amal perbuatan umat Islam.
Khalifah atau kepala pemerintahan umat Islam, tidak mesti orang yang berasal dari suku Quraisy, dapat dipilih siapa saja dari umat Islam yang mampu dan sanggup berlaku adil, jika tidak mampu wajib dijatuhkan. Selain itu khalifah tidak bersifat turun temurun. Seperti yang ditulis Harun Nasution, kaum khawarij memang mempunyai pendapat yang berlainan dengan pendapat yang dianut pada masa itu yaitu khalifah haruslah berasal dari kalangan Quraisy. Pendapat ini kemudian menjadi teori ketatanegaraan yang dianut oleh ahli sunnah. Ahmad Amin juga menemukakan hal yang sama, bahwa posisi khalifah itu bukan hanya hak khusus suku Quraisy, semua umat Islam mempunyai peluang untuk itu.
Orang Islam yang membuat dosa besar, menjadi khafir. Dosa besar yang dimaksud kaum khawarij yaitu orang yang ber-tahkim tidak dengan al-Qur’an, tak sepaham dengan mereka, berzina, memakan hak anak yatim dan lain-lain
Untuk menentukan kafir atau tidaknya seorang Islam terletak pada amal perbuatannya. Menurut kaum khawarij, sungguhpun seseorang telah mengucapkan dua kalimat syahadat, tetapi kemudian melanggar ketentuan agama, maka orang seperti itu tetap dihukum kafir. Hal itu sejalan dengan apa yang ditulis Ahmad Amin, bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad itu adalah utusan-Nya kemudian orang yang itu tidak mengamalkan ketentuan-ketentuan agama, maka orang tersebut bagi mereka telah menjadi khafir.
2.2.2 Ajaran Pokok Murjia’ah
Secara garis besar, ajaran-ajaran pokok Murji'ah adalah:
Pengakuan iman cukup hanya dalam hati. Jadi pengikut golongan ini tak dituntut membuktikan keimanan dalam perbuatan sehari-hari. Ini merupakan sesuatu yang janggal dan sulit diterima kalangan Murji'ah itu sendiri, karena iman dan amal perbuatan dalam Islam merupakan satu kesatuan yang harus selaras dan berkesinambungan.
Selama meyakini 2 kalimah syahadat, seorang Muslim yang berdosa besar tak dihukum kafir. Hukuman terhadap perbuatan manusia ditangguhkan, artinya hanya Allah yang berhak menjatuhkannya di akhirat.
Perbandingan antara Khawarij dan Murjia’ah sudah bisa kita liat dari ajaran pokoknya sudah terlihat jelas perbandingannya khawarij yang terkenal dengan sangat mudah mengkafir seseorang yang di karenakan salah sedikit dalam perbuatannya sedangkan aliran murjia’ah segelah perbuatan manusia itu di tangguhkan atau di serahkan hukumannya itu kepada Allah SWT.
BAB III
PENUTUPAN
3.1 Kesimpulan
Khawarij dan Murjia’ah memiliki perbedaan masing – masing dari segi kepercayaan,
Pengetahuan ilmu, ajaran – ajaranya dan yang lainnya juga karena itu perbeedaan tersebut menjadikan bagian khazanah intelektual islam dan untuk menyikapi hal perbedaan tersebut kita harus menerapkan dalam diri kita sikap toleransi terhadap sesama muslim tidak mencela bahkan jangan sampai saling menjatuhkan sesama muslim.
DAFTAR PUSTAKA
file:///C:/Users/ADMIN/Downloads/1597-3378-1-SM%20(1).pdf
https://zilfaroni.dosen.iain-padangsidimpuan.ac.id/2016/02/khawarij-dan-murjiah.html
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Murji%27ah
http://khazanah-keislaman.blogspot.com/2015/09/makalah-sejarah-lahirnya-aliran-murjiah.html



